Bromo: Kali Kedua

Kalau ada seseorang yang tanya ke gue: “Momen apa dari trip Bromo yang paling nggak bisa lo lupain?”, gue akan jawab: “Pas kelihatan dari sebelah timur semburat antara merah, jingga, kuning bercampur gelapnya malam terus pelan-pelan matahari mulai naik meluruhkan sisa hitamnya langit dan dari bayangan gelap di sebelah kanan lo yang tadinya nggak ada apa-apa bakal kelihatan sejajaran gunung berbaris rapi diterpa cahaya pertama dari sebelah timur. Dan itulah gunung Batok, Bromo, dan Semeru. The beauty never ceases to amaze me”

Kali kedua trip gue ke Bromo, berawal dari ide iseng teman kantor untuk escape trip dari segala tumpukan kerjaan, meeting, project yang belum kelar, dll. Apalagi waktunya bertepatan dengan business partner gue di area yang sedang ada National Meeting di Jakarta. (Currently, I work in Sumatera and move back to back between areas in Pekanbaru and Batam). Dengan kemampuan negosiasi mumpuni dan hasrat meng-update foto Instagram yang sudah tidak terbendung lagi, teman gue pun berhasil menarik member dari Area lain untuk ikut gabung. Setelah diskusi super singkat di instant message dan sepuluh menit teleconference, diputuskan: we are going to Bromo!

Namun, plan Escape Trip to Bromo gagal malah menjadi Cuti Trip to Bromo. Tujuan sama tapi prosesnya beda so tidak melanggar aturan kantor (hehe).

Then I booked direct flight from PKU – SUB vv

IMG_1411

Member dari Escape Cuti Trip to Bromo

As it has been a custom to taste all the culinary specialties on one city, we did that upon our arrival in Surabaya. Coba macam-macam kuliner dari Warung Gubeng Podjok, Soto Lamongan Cak Man sampai yang paling tidak boleh ketinggalan Sambal Bu Rudy. Kita menghabiskan waktu setengah hari di Surabaya untuk cicip sana sini sebelum sorenya melanjutkan perjalanan naik kereta ekonomi Penataran ke Malang.

Dengan kereta dari Stasiun Gubeng, butuh sekitar dua setengah jam untuk mencapai Stasiun Malang Kota. Kereta ekonominya sudah pakai AC dan cukup nyaman, apalagi harganya relatif terjangkau hanya 12 ribu sekali perjalanan. Namun sayang kursinya agak sempit, jadi kalau ada budget lebih dan berbadan besar mau duduk lebih nyaman gue saranin utk beli beberapa kursi tambahan (because that’s what we did).

Sampai di Malang.

Sesuai rencana, kita akan menginap di rumah warga sekitar yang tinggal dekat dengan Taman Nasional Bromo. Dua teman gue, punya kerabat disana karena dulu mereka menghabiskan 2 bulan untuk KKN (Kuliah Kerja Nyata) di daerah situ di Desa Wringinanom. Kita sampai di Desa Wringinanom sekitar jam 9 malam, disambut dengan sangat ramah oleh Bu Nur, Pak Harto dan puluhan toples cemilan. Our culinary mission still went on..

Belum sempat kita tidur karena sibuk update life, sekitar jam 01:00 dini hari, kita berangkat naik jeep menuju Pananjakan. Butuh sekitar dua jam untuk sampai kesana karena Desa Wringinanom ini terletak sebelah selatan dari Taman Nasional Bromo so agak sedikit memutar. Perjalanan naik jeep diisi dengan tidur, apalagi nggak ada pemandangan yang bisa dilihat karena malam masih gelap.

Begitu turun dari Jeep di Penanjakan, it was freezing cold.. Bahkan teman gue yang sudah tujuh kali (yes, tujuh) ke Bromo masih ngerasa kedinginan. Malam itu angin lembahnya super kenceng banget dan baju tiga lapis gue jadi terasa kurang.

IMG_1015

What’s the best way to survive under the freezing wind in a mountain on the middle of the night? Tentu, indomie jawabnya.

Sebetulnya kita agak kecepetan untuk sampai ke Penanjakan karena sunrise baru terlihat sekitar jam lima kurang dan kita sudah disana dari jam tiga. Sambil menunggu kita habiskan dengan makan indomie dan nyemil. Mendekati sunrise, belum ada tanda-tanda suhu jadi lebih hangat. Menurut Instagram Story (karena anak jaman sekarang tidak bawa thermometer kemana-mana), suhu sekitar 11 derajat C. So we waited for the sunrise under that degrees of cold.

img_1034-e1506966497164.jpg

As the sun rose and its light shone the scenery below it, all the cold and the waiting were paid off

IMG_1103

Semburat merah, jingga, dan kuning mulai terlihat dari arah timur. Persis di sebelah kanan jajaran gunung Batok, Bromo dan Semeru perlahan terpapar cahaya matahari. A solid beauty.

Sisa pagi itu kita habiskan dengan foto-foto dari segala sudut yang memungkinkan, dari sesak-sesakan dengan ratusan wisatawan sampai manjat pagar agar pemandangan gunungnya keliatan. Puas dengan pose-pose di Pananjakan, kita naik jeep lagi untuk pindah ke padang pasir di kaki Kawah Bromo. Yet, with the same agenda: took photos

IMG_1291

Bro-mo

IMG_1356

“Sebuah Cerita”  caption dari teman gue (disclaimer)

Dan itu beberapa foto gue selama trip Bromo kemarin. Sebetulnya kita nggak terlalu lama berfoto-foto karena mata masih ngantuk banget kurang tidur.. akhirnya jam 10 lewat kita sudah naik jeep kembali ke Desa Wringinanom untuk sarapan dan melanjutkan tidur. Sorenya kita berangkat Malang untuk naik kereta Penataran kembali ke Surabaya dan berpisah untuk kembali ke Area masing-masing.

To sum up, it was a lovely short trip! And indeed, the beauty that surrounds Bromo will never ceases to amaze me, or us. Even for my friend, who has visited this place for the eighth time, spotted dozens of places that he’s never seen and taken photo before. Menurut gue, kita beruntung banget dan bersyukur hidup di satu negeri yang punya ribuan tempat sebagus atau bahkan lebih bagus dari Bromo ini. Gue berharap akan kembali lagi ke Bromo untuk kali ketiga, keempat, kelima dan seterusnya, to discover other hidden beauty that this place ever hold.

Next, journey to Ranu Kumbolo?

27 Juli 2017, dari ketinggian 31 ribu kaki dalam perjalanan kembali dari Surabaya ke Pekanbaru

-R

One thought on “Bromo: Kali Kedua

Leave a comment